IDNVoice.com - Presiden Prabowo Subianto mengaku prihatin karena Indonesia hingga kini belum mampu menembus putaran final Piala Dunia sepak bola, meski memiliki jumlah penduduk hampir 300 juta jiwa. Menurutnya, kondisi tersebut menjadi fakta yang harus dihadapi secara jujur sekaligus dijadikan bahan evaluasi untuk memperbaiki berbagai aspek, termasuk pembinaan olahraga nasional.
Pernyataan itu disampaikan Presiden saat bertemu sekitar 150 periset Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) di Halaman Tengah Istana Kepresidenan, Jakarta pada Kamis, 6 Agustus 2206.
"Contoh yang kecil saja kita negara jumlah penduduk keempat terbesar di dunia. Hampir 300 juta, 287 juta. Tapi saya sangat sedih terus terang saja masalah sepak bola saja kita tidak mampu Piala Dunia. Ini fakta yang tidak enak," kata Prabowo.
Dalam kesempatan tersebut, Presiden membandingkan Indonesia dengan Cape Verde, negara yang memiliki jumlah penduduk sekitar 500 ribu jiwa, namun dinilainya mampu menembus ajang sepak bola paling bergengsi di dunia.
"Masa negara kecil seperti Cape Verde masuk. Mungkin jumlah penduduknya dengan Kabupaten Sumedang mungkin lebih banyak Sumedang," ujarnya.
Prabowo menegaskan perbandingan tersebut bukan untuk menyalahkan pihak tertentu, melainkan mengajak seluruh elemen bangsa melakukan introspeksi dan mencari akar persoalan agar Indonesia mampu meningkatkan prestasi di tingkat internasional.
"Saya bilang jangan mengeluh, jangan mencari kambing hitam, karena itu tidak akan membantu. Sekarang belajar bagaimana kenapa kok bisa negara itu masuk. Apa yang dilakukan? Pelatihnya dari mana? Guru-gurunya dari mana? Jadi kita cari penyebabnya apa. Baru kita harus berani berbuat," katanya.
Menurut Presiden, budaya yang dibangun harus berlandaskan fakta dan realitas. Keberanian mengakui kekurangan menjadi langkah awal untuk menemukan solusi yang tepat bagi berbagai persoalan nasional, termasuk di bidang olahraga.
Selain menyinggung sepak bola, Prabowo juga menekankan bahwa kemajuan suatu bangsa sangat ditentukan oleh penguasaan sains dan teknologi. Karena itu, ia mengajak para periset BRIN untuk terus menghasilkan riset dan inovasi yang mampu menjawab tantangan pembangunan nasional.
"Pembangunan suatu bangsa itu ditentukan oleh apakah bangsa itu mampu menguasai sains dan teknologi atau tidak. Jadi bangsa yang mampu menguasai sains dan teknologi, bangsa itu akan maju dengan pesat. Kuncinya adalah sains dan teknologi. Ini adalah fakta dan kenyataan," kata Presiden. [DR]