IDNVoice.com - Lebih dari sembilan dekade sejak Piala Dunia pertama digelar pada 1930, persaingan sepak bola dunia ternyata masih didominasi dua kawasan besar: Eropa dan Amerika Selatan. Dari 22 edisi Piala Dunia yang telah berlangsung hingga Qatar 2022, tidak ada satu pun negara dari Asia, Afrika, Amerika Utara, maupun Oseania yang mampu mengangkat trofi juara dunia.
Konfederasi sepak bola Eropa, UEFA, masih menjadi penguasa panggung terbesar sepak bola dunia dengan koleksi 12 gelar juara. Sementara itu, konfederasi Amerika Selatan, CONMEBOL, berada di posisi kedua dengan 10 gelar.
Dominasi UEFA dibangun oleh negara-negara besar seperti Italia dan Jerman yang masing-masing mengoleksi empat gelar, disusul Prancis dengan dua gelar, serta Inggris dan Spanyol yang masing-masing sekali menjadi juara dunia.
Di sisi lain, CONMEBOL mengandalkan kekuatan tradisionalnya. Brasil menjadi negara tersukses dalam sejarah Piala Dunia dengan lima gelar, diikuti Argentina dengan tiga gelar dan Uruguay dengan dua gelar.
Berikut daftar gelar juara Piala Dunia berdasarkan Konfederasi: UEFA (Eropa, 12 Gelar), CONMEBOL (Amerika Selatan, 10 gelar), AFC (Asia, 0), CAF (Afrika, 0), CONCACAF (Amerika Utara, Tengah, Karibia: 0) dan OFC (Oseania, 0).
Tak hanya unggul dalam jumlah trofi, UEFA juga memimpin statistik kemenangan pertandingan sepanjang sejarah Piala Dunia. Tim-tim Eropa mencatatkan 468 kemenangan dari 808 pertandingan atau sekitar 58 persen, jauh di atas konfederasi lainnya. Sementara CONMEBOL membukukan 185 kemenangan dari 358 pertandingan.
Meski demikian, peta kekuatan sepak bola dunia perlahan berubah. Maroko menjadi tim Afrika pertama yang menembus semifinal pada Piala Dunia 2022, sementara Jepang dan Korea Selatan terus menunjukkan perkembangan pesat di Asia. Namun hingga saat ini, trofi paling bergengsi di dunia sepak bola masih menjadi milik dua benua: Eropa dan Amerika Selatan.
Dengan Piala Dunia 2026 yang akan diikuti 48 negara, pertanyaan besarnya kini adalah: mampukah Asia, Afrika, atau Amerika Utara mematahkan dominasi yang telah bertahan selama 96 tahun, atau justru Eropa dan Amerika Selatan kembali memperpanjang kekuasaannya? [DR]