IDNVoice.com – Pemerintah pusat membangun Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) di Desa Uiasa dan Desa Hansisi, Kecamatan Semau, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT). Program ini diharapkan menjadi solusi bagi nelayan pesisir dalam menjaga kualitas hasil tangkapan, meningkatkan nilai jual ikan, sekaligus menggerakkan roda perekonomian masyarakat setempat.
Bupati Kupang Yosef Lede mengatakan, pembangunan KNMP merupakan bagian dari program prioritas pemerintah pusat yang diarahkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir. Pemerintah Kabupaten Kupang, kata dia, mendukung kebijakan Presiden Prabowo Subianto tersebut agar manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh para nelayan.
"KNMP adalah salah satu program prioritas pemerintah pusat yang ditangkap oleh Pemerintah Kabupaten Kupang. Sehingga kebijakan Bapak Presiden Prabowo untuk menolong masyarakat khususnya di daerah-daerah pesisir dapat terealisasi,” kata Yosef Lede di Kupang pada Senin, 19 Oktober 2026.
Ia menjelaskan, KNMP akan dilengkapi fasilitas penampungan dan penyimpanan dingin atau cold storage. Fasilitas tersebut memungkinkan hasil tangkapan nelayan disimpan dengan baik sehingga kualitas ikan tetap terjaga, tidak cepat rusak, dan dapat dipasarkan dengan harga yang lebih menguntungkan.
Selama ini, nelayan kerap menghadapi persoalan ketika hasil tangkapan melimpah. Keterbatasan fasilitas penyimpanan dan akses pemasaran membuat ikan cepat rusak, bahkan dijual dengan harga rendah. Kehadiran KNMP diharapkan mampu mengatasi kendala tersebut melalui sistem penampungan, penyimpanan, dan pemasaran yang lebih teratur.
"Selama ini, kita sering kali panen ikan melimpah, tetapi tidak tahu harus disimpan di mana atau dijual ke mana. Hasil tangkapan yang banyak justru cepat rusak dan harganya jatuh. Kehadiran Kampung Nelayan ini menjawab persoalan tersebut. Ikan bisa ditampung, disimpan, dan dipasarkan dengan lebih teratur," ujarnya.
Yosef juga menekankan pentingnya mengintegrasikan pengelolaan KNMP dengan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) yang berdiri berdampingan. Menurutnya, kedua fasilitas tersebut tidak boleh berjalan sendiri-sendiri, tetapi harus saling mendukung untuk menciptakan ekosistem ekonomi pesisir yang produktif dan berkelanjutan.
Ia mengingatkan pengelola koperasi agar terus berinovasi sehingga keberadaan koperasi benar-benar memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat. Salah satu caranya adalah menjadikan koperasi sebagai jalur penampungan dan pemasaran hasil tangkapan nelayan.
"Saya sudah berpesan kepada seluruh pengelola Koperasi Desa Merah Putih jangan berdiri sendiri-sendiri tanpa inovasi, karena itu tidak akan bertahan lama. Koperasi dan Kampung Nelayan harus saling menopang, hasil tangkapan ditampung dan dipasarkan melalui koperasi, sehingga roda ekonomi berputar di tempat sendiri. Saya sudah melihat keberhasilan model ini di Desa Sulamu, dan saya ingin model yang sama berhasil juga di Semau," tegasnya.
Dengan keterpaduan tersebut, perputaran ekonomi diharapkan tetap berlangsung di tingkat desa. Nelayan memperoleh akses pemasaran yang lebih baik, sementara koperasi memiliki kegiatan usaha produktif yang dapat memperkuat perekonomian masyarakat pesisir.
Anggota DPRD Kabupaten Kupang Absalom Buy turut menyambut pembangunan KNMP sebagai langkah awal perubahan ekonomi masyarakat Semau. Namun, ia mengingatkan agar pembangunan tidak hanya berorientasi pada infrastruktur dan keuntungan ekonomi, tetapi juga memperhatikan kondisi sosial masyarakat.
"Kita memiliki rencana Kampung Nelayan yang telah dirancang dengan matang. Namun, di samping aspek fisik dan ekonominya, aspek sosial masyarakat juga harus menjadi perhatian utama. Saya berharap konsep terintegrasi yang sedang dibangun ini benar-benar dirasakan manfaatnya oleh seluruh masyarakat," ujar Absalom.
Sementara itu, Wakil Dekan Fakultas Peternakan, Kelautan, dan Perikanan (FPKP) Universitas Nusa Cendana, Franchy Christian Liufeto, mengingatkan bahwa pembangunan KNMP harus disertai pengelolaan sumber daya laut secara bijaksana. Menurutnya, keberlanjutan sumber daya ikan menjadi tantangan yang perlu diperhatikan agar peningkatan aktivitas ekonomi nelayan tidak mengabaikan kelestarian ekosistem laut.
Ia menyoroti kecenderungan berkurangnya jumlah dan ukuran ikan yang ditangkap nelayan dari waktu ke waktu. Karena itu, diperlukan pendataan, kajian stok ikan, serta pendampingan teknis untuk memastikan pemanfaatan sumber daya laut tetap berkelanjutan.
"Kita menyadari bahwa jumlah dan ukuran ikan yang tertangkap nelayan saat ini terus berkurang dari waktu ke waktu. Ini menjadi tugas bersama kita untuk memastikan bahwa pemanfaatan sumber daya laut dilakukan secara berkelanjutan. Di sinilah peran kami, dosen dan mahasiswa FPKP Undana siap hadir bersama masyarakat dan Pemkab Kupang untuk melakukan pendataan, pengkajian stok ikan, serta pendampingan teknis agar hasil tangkapan nelayan tetap terjaga dan berkualitas," ujarnya.
Kolaborasi pemerintah daerah, pengelola koperasi, masyarakat, dan perguruan tinggi diharapkan menjadikan KNMP di Semau bukan sekadar proyek pembangunan fisik. Lebih dari itu, kawasan ini diharapkan berkembang menjadi pusat kegiatan ekonomi perikanan yang mampu meningkatkan pendapatan nelayan sekaligus menjaga keberlanjutan sumber daya laut. [DR]