IDNVoice.com – Pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), menghadapi kendala status kawasan. Sejumlah titik yang direncanakan untuk pembangunan diketahui berada di dalam Taman Wisata Alam (TWA), sehingga Pemerintah Kabupaten Sikka perlu meninjau kembali lokasi tersebut sebelum menentukan kelanjutan proyek.
Bupati Sikka, Juventus Prima Yoris Kago, mengungkapkan persoalan itu saat peletakan batu pertama pembangunan KNMP di Nangahure, Kelurahan Wuring, Kecamatan Alok Barat, Selasa.
Ia menjelaskan, dari delapan titik pembangunan yang direncanakan, beberapa di antaranya perlu ditinjau ulang karena masuk kawasan konservasi. Pemerintah daerah kini mengupayakan penyelesaian persoalan tersebut menyusul surat dari Kementerian Kehutanan.
"Ada surat dari Kementerian Kehutanan untuk kemudian ditinjau ulang titiknya, dan ini yang sedang kita upayakan," kata Juventus pada Selasa, 13 Oktober 2026.
Meski demikian, Juventus belum merinci jumlah titik yang terdampak maupun lokasi yang berpotensi mengalami perubahan. Pemerintah Kabupaten Sikka juga belum memastikan apakah lokasi tersebut tetap dipertahankan atau dialihkan ke tempat lain.
Kepastian status kawasan menjadi hal penting yang harus diselesaikan sebelum pemerintah menentukan langkah pembangunan selanjutnya. Hingga kini, jadwal peninjauan ulang dan keputusan mengenai titik-titik terdampak belum diumumkan secara resmi.
Di tengah persoalan status kawasan tersebut, pembangunan KNMP di Nangahure telah dimulai. Proyek dengan nilai anggaran sebesar Rp3.214.500.000 itu dikerjakan oleh PT Arum Daya Sentausa dan ditargetkan rampung pada akhir Desember 2026.
Menurut Juventus, program Kampung Nelayan Merah Putih dirancang untuk memperkuat kegiatan ekonomi nelayan melalui penyediaan infrastruktur dan fasilitas pendukung sektor perikanan.
Fasilitas yang disiapkan meliputi tambatan perahu, pabrik es, penerangan, serta sarana penanganan dan pemasaran hasil tangkapan. Keberadaan fasilitas tersebut diharapkan dapat mendukung aktivitas nelayan, mulai dari kegiatan melaut hingga penanganan hasil produksi setelah kembali ke darat.
Selain pembangunan infrastruktur, pemerintah juga menyiapkan dukungan off-taker, yakni pihak yang menyerap hasil produksi nelayan. Skema ini diharapkan membantu memperluas akses pemasaran hasil tangkapan sekaligus menjaga keberlanjutan usaha masyarakat pesisir.
Juventus mengatakan, proses menuju pembangunan KNMP di Nangahure sebelumnya diwarnai sejumlah kendala dan dinamika di tengah masyarakat.
Untuk mendukung kelancaran proses tersebut, komunikasi dengan warga setempat dilakukan dengan melibatkan berbagai pihak, termasuk Komandan Pangkalan TNI Angkatan Laut.
Pemerintah Kabupaten Sikka berharap pembangunan KNMP dapat memberikan manfaat bagi masyarakat pesisir, terutama melalui peningkatan fasilitas perikanan dan penguatan pemasaran hasil tangkapan nelayan.
Namun, untuk titik-titik yang berada di kawasan TWA, kelanjutan pembangunan masih menunggu kepastian hasil peninjauan ulang. Pemerintah daerah perlu memastikan kesesuaian lokasi dengan ketentuan kawasan konservasi sebelum menetapkan langkah berikutnya. [DR]