Kerajinan Karya Penyandang Disabilitas Tembus Pasar Ekspor, Tampil di Trade Expo Indonesia 2026

Kamis, 15 Oktober 2026 20:58 WIB
Direktur Jenderal Pembinaan Penempatan Tenaga Kerja dan Perluasan Kesempatan Kerja (Binapenta dan PKK) Kemnaker, Sugeng Heri Suseno. (IDNVoice/Kemnaker)
Direktur Jenderal Pembinaan Penempatan Tenaga Kerja dan Perluasan Kesempatan Kerja (Binapenta dan PKK) Kemnaker, Sugeng Heri Suseno. (IDNVoice/Kemnaker)

IDNVoice.com – Karya kerajinan tangan, tas, hingga dompet buatan penyandang disabilitas tampil dalam ajang Trade Expo Indonesia (TEI) ke-41 yang berlangsung di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD, Tangerang, pada 14–18 Oktober 2026. Produk-produk tersebut bahkan telah menembus pasar ekspor melalui pendampingan Rumah Kreatif, mitra Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker).

Direktur Jenderal Pembinaan Penempatan Tenaga Kerja dan Perluasan Kesempatan Kerja (Binapenta dan PKK) Kemnaker, Sugeng Heri Suseno, mengatakan capaian tersebut menunjukkan bahwa penyandang disabilitas memiliki potensi besar untuk menghasilkan produk bernilai ekonomi dan bersaing di pasar yang lebih luas.

"Capaian tersebut menunjukkan potensi penyandang disabilitas untuk menghasilkan produk bernilai ekonomi dan menjangkau pasar yang lebih luas," kata Sugeng pada Kamis, 15 Oktober 2026.

Menurut dia, pengembangan keterampilan penyandang disabilitas perlu dilakukan melalui pelatihan yang terstruktur dan sesuai dengan kebutuhan peserta. Dengan demikian, keterampilan yang diperoleh dapat dimanfaatkan untuk memasuki dunia kerja maupun membangun usaha secara mandiri.

"Peran utama Kemnaker adalah memastikan teman-teman disabilitas mendapatkan pelatihan terstruktur agar memiliki keterampilan yang dibutuhkan pasar kerja. Sasarannya jelas, yaitu mengurangi tingkat pengangguran disabilitas dan mendorong kemandirian mereka," ujar Sugeng.

Untuk memperluas kesempatan pelatihan kerja yang inklusif, Kemnaker tengah membangun Balai Latihan Kerja (BLK) Khusus Penyandang Disabilitas di Balai Pelatihan Kerja Kompetensi (BPKK) Bekasi, Jawa Barat.

Balai tersebut dirancang agar penyandang disabilitas dapat mengikuti pelatihan dalam lingkungan yang mudah diakses, dengan fasilitas dan metode pembelajaran yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing peserta.

Fasilitas yang disiapkan mencakup jalur landai, lift, jalur pemandu bagi penyandang tunanetra, serta toilet yang disesuaikan dengan kebutuhan pengguna.

Selain fasilitas aksesibilitas, BLK tersebut akan dilengkapi sejumlah sarana pelatihan khusus. Di antaranya Digital Skills Lab untuk pelatihan pemrograman berbasis kecerdasan buatan, Batik & Craft Studio untuk mengembangkan keterampilan kriya, serta Laboratorium Terapi Sensori sebagai sarana pendukung pembelajaran.

"Semua ruang kelas dirancang untuk mengakomodasi kebutuhan penyandang tunarungu, tunanetra, tunadaksa, maupun disabilitas intelektual," kata Sugeng.

Selain membangun fasilitas pelatihan, Kemnaker juga mengembangkan kemitraan dengan berbagai pihak yang selama ini mendampingi penyandang disabilitas dalam kegiatan produktif.

Kolaborasi tersebut diharapkan mampu meningkatkan kualitas produk, memperkuat keterampilan para perajin, serta mendorong hasil karya mereka memenuhi standar internasional sehingga memiliki peluang lebih besar menembus pasar ekspor.

Sugeng mengatakan Kemnaker akan memperluas program pelatihan berbasis kompetensi dan pendampingan kerja bagi penyandang disabilitas ke berbagai daerah di Indonesia.

"Ke depan, Kemnaker akan memperluas pelatihan berbasis kompetensi dan pendampingan kerja bagi penyandang disabilitas ke berbagai daerah. Langkah ini diharapkan membuka akses yang lebih luas terhadap pekerjaan layak sekaligus mendukung penyandang disabilitas mengembangkan usaha secara mandiri," ujarnya. [DR]



Reporter : Redaksi
Redaktur : Abdul Rahman Wahid