Kemnaker Siapkan 50 Balai Latihan Kerja untuk Cetak Talenta Green Jobs

Kamis, 03 September 2026 16:57 WIB
Petugas PLN melakukan pengecekan panel surya pada Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Pulau Rengit, Kabupaten Belitung, Kepulauan Bangka Belitung. (IDNVoice/PLN)
Petugas PLN melakukan pengecekan panel surya pada Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Pulau Rengit, Kabupaten Belitung, Kepulauan Bangka Belitung. (IDNVoice/PLN)

IDNVoice.com - Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) menyiapkan jaringan pusat pelatihan vokasi yang diarahkan untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja di sektor green jobs atau pekerjaan hijau.

Menteri Ketenagakerjaan Yassierli mengatakan langkah tersebut menjadi bagian dari strategi pemerintah menyiapkan tenaga kerja yang memiliki kompetensi sesuai kebutuhan industri dalam proses transisi menuju ekonomi hijau.

Dalam Indonesia`s Green Jobs Conference 2026 di Jakarta, Rabu, Yassierli menyebut Kemnaker saat ini memiliki 34 balai latihan kerja dan berencana menambah sekitar 17 balai baru.

"Jadi akan ada total sekitar 50 balai latihan kerja. Sebagian dari balai tersebut nantinya akan menjadi pusat pelatihan vokasi yang didedikasikan untuk green jobs," ucap dia pada Rabu, 2 September 2026.

Menurut Yassierli, green jobs harus dilihat sebagai peluang untuk menciptakan lapangan kerja baru. Namun, peluang tersebut harus diimbangi kesiapan tenaga kerja dan sistem pelatihan yang mampu mengikuti kebutuhan sektor-sektor yang berkembang.

Kebutuhan Tenaga Kerja Harus Dipetakan

Yassierli mengatakan salah satu tantangan dalam mendukung tenaga kerja untuk transisi energi hijau adalah belum terpetakannya kebutuhan tenaga kerja secara rinci, termasuk berdasarkan jabatan dan kompetensi spesifik.

Ia mencontohkan rencana pengembangan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) dengan kapasitas hingga 100 GW. Pemerintah, kata dia, perlu mengetahui kebutuhan tenaga kerja secara detail, mulai dari pengoperasian dan pemeliharaan hingga produksi berbagai komponen yang diperlukan.

Setelah kebutuhan tersebut terpetakan, Kemnaker akan menyesuaikan skema pelatihan dan sertifikasi agar kompetensi yang dihasilkan benar-benar sesuai kebutuhan industri.

Dalam hal sertifikasi, Kemnaker mendorong penguatan Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP). Menurut Yassierli, pemerintah tidak dapat melakukan seluruh proses sertifikasi secara mandiri sehingga perlu melibatkan lembaga sertifikasi yang kompeten.

Selain itu, Kemnaker mendapatkan dukungan Bank Dunia untuk mendirikan sekitar 15 pusat pelatihan vokasi baru yang diharapkan mulai dibangun atau beroperasi pada tahun depan.

Yassierli mengatakan pusat-pusat pelatihan tersebut akan menjadi modalitas baru dalam menyiapkan tenaga kerja sesuai kebutuhan industri.

Kejar Kesenjangan Pelatihan di Luar Jawa

Tantangan lainnya adalah kesenjangan regional. Yassierli menyoroti pengembangan energi terbarukan yang banyak berlangsung di luar Pulau Jawa, sementara fasilitas pelatihan vokasi di sejumlah daerah tersebut belum sepenuhnya tersedia.

"Padahal kalau level-level tersebut, nanti banyak yang diminta adalah SDM lokal. Sehingga keberadaan fasilitas untuk vocational training-nya pada daerah-daerah target nanti yang di luar Pulau Jawa, itu kemudian harus kita perhatikan," katanya.

Kemnaker pun tengah melakukan transformasi terhadap balai latihan kerja. Salah satunya Balai Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BPVP) di Serang, Banten, yang menjadi salah satu pusat pelatihan untuk green jobs.

Pemerintah juga mengintegrasikan program pelatihan vokasi nasional dengan kebutuhan tenaga kerja pada sektor-sektor tertentu.

Pada 2026, Kemnaker menargetkan pelatihan vokasi dapat menjangkau 340 ribu orang, sementara program magang ditargetkan diikuti 150 ribu orang.

Yassierli mengatakan pelatihan tersebut akan dilanjutkan dengan sertifikasi yang diupayakan memiliki pengakuan global. Setelah itu, tenaga kerja akan diarahkan untuk ditempatkan pada industri yang membutuhkan sesuai kompetensi mereka.

Langkah tersebut diharapkan dapat memperkuat kesiapan tenaga kerja Indonesia sekaligus mencegah kesenjangan antara kebutuhan industri dan kompetensi tenaga kerja semakin lebar di tengah berkembangnya ekonomi hijau. [DR]



Reporter : Redaksi
Redaktur : Abdul Rahman Wahid