Wamen Sudaryono Bantah Kabur Saat Dialog di UGM, Klaim Tetap Bertahan Meski Situasi Memanas

Selasa, 16 Juni 2026 09:40 WIB
Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono, Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) Nusron Wahid saat berada di kawasan Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta pada Senin, 15 Juji 2026. (IDNVoice/Kementan)
Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono, Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) Nusron Wahid saat berada di kawasan Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta pada Senin, 15 Juji 2026. (IDNVoice/Kementan)

IDNVoice.com - Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono membantah tudingan bahwa dirinya meninggalkan lokasi atau kabur saat forum dialog bersama mahasiswa di Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, berlangsung tidak kondusif pada Senin, 15 Juji 2026.

Menurutnya, ia bersama Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala BPN Nusron Wahid serta Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan (BP Taskin) Budiman Sudjatmiko justru datang dengan tujuan membuka ruang diskusi secara terbuka dan demokratis.

"Kami datang ke UGM memang untuk berdiskusi. Acara ini sudah direncanakan sejak lama dan telah mendapat izin dari pihak kampus. Ini juga bukan kegiatan pertama semacam ini," kata Sudaryono dalam keterangan resminya pada Selasa, 16 Juni 2026.

Ia menjelaskan, sejak awal agenda yang digelar di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) UGM itu, dirinya dan para narasumber memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada mahasiswa untuk menyampaikan pertanyaan maupun kritik terhadap kebijakan pemerintah.

"Ditanya apa saja tidak masalah. Diadili seperti apa saja juga tidak masalah. Kami hadir untuk berdialog secara demokratis," ujarnya.

Namun, suasana forum berubah ketika, menurut Sudaryono, muncul sekelompok peserta yang menginginkan diskusi dihentikan. Ia menyebut kondisi tersebut membuat jalannya acara menjadi tidak kondusif meski sebagian besar mahasiswa masih ingin mengikuti dialog.

"Kami sempat berdiskusi sekitar 30-40 menit. Tetapi kemudian ada sekelompok orang yang menginginkan forum dihentikan. Padahal sebagian besar mahasiswa justru ingin mendengar dan berdialog," ungkapnya.

Meski situasi mulai memanas, Sudaryono mengaku tetap bertahan bersama Nusron Wahid karena meyakini dialog merupakan cara terbaik untuk menyelesaikan perbedaan pandangan. Ia mengatakan kondisi semakin sulit setelah terjadi pelemparan botol air dan dugaan tindakan fisik terhadap dirinya.

"Saya merasa ada yang memukul saya. Ada pelemparan air juga. Karena situasi sudah tidak kondusif, pihak keamanan menyarankan kami keluar," katanya.

Menanggapi anggapan bahwa dirinya dan rombongan menghindari dialog, Sudaryono menegaskan tuduhan tersebut tidak benar. Ia mengklaim justru kembali menemui massa setelah keluar dari lokasi.

"Kalau ada yang mengatakan Sudaryono dan Nusron kabur, itu tidak tepat. Justru kami yang datang untuk berdiskusi. Bahkan saat mobil kami dicegat dan kami dicari-cari, kami keluar lagi dan duduk bersila di aspal untuk melanjutkan dialog," tegasnya.

Dalam dialog spontan yang berlangsung di luar forum, sejumlah mahasiswa menyampaikan kritik terkait persoalan pertanahan dan dugaan penggusuran. Sudaryono mengatakan dirinya terbuka untuk memverifikasi setiap persoalan yang disampaikan. Ia juga menegaskan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto terbuka terhadap kritik dan menjunjung tinggi nilai-nilai demokrasi.

"Kalau ada yang keliru, kita perbaiki. Itu cerminan demokrasi. Orang boleh punya pendapat, tetapi juga harus menghargai pendapat orang lain," ujarnya.

Di akhir keterangannya, Sudaryono menyampaikan permohonan maaf kepada mahasiswa yang datang dengan harapan berdialog secara konstruktif namun tidak dapat mengikuti forum secara optimal akibat situasi yang terjadi. Ia menegaskan kesiapannya untuk kembali berdiskusi jika diundang.

"Saya minta maaf kepada adik-adik mahasiswa yang sebetulnya ingin berdialog secara baik. Kami siap jika diundang kembali, baik di Yogyakarta maupun Jakarta. Yang penting kita berdiskusi," katanya.

Sudaryono menutup pernyataannya dengan menegaskan komitmen pemerintah untuk terus membuka ruang dialog dengan berbagai elemen masyarakat sebagai bagian dari upaya menjaga demokrasi dan menyerap aspirasi publik. [DR]



Reporter : Redaksi
Redaktur : Abdul Rahman Wahid