Saat Barca Membagun Skuad, Madrid Justru Jadi Tim yang Sedang Hancur

Senin, 11 Mei 2026 13:24 WIB
Para pemain Barcelona merayakan kemenangan 2-0 atas Real Madrid FC yang mengantarkan keberhasilan jadi juara Liga Spanyol 2025-2026 di Stadion Camp Nou di Barcelona pada 10 Mei 2026. (AFP/LLUIS GENE)
Para pemain Barcelona merayakan kemenangan 2-0 atas Real Madrid FC yang mengantarkan keberhasilan jadi juara Liga Spanyol 2025-2026 di Stadion Camp Nou di Barcelona pada 10 Mei 2026. (AFP/LLUIS GENE)

IDNVoice.com - Pada akhir Mei, Stadion Santiago Bernabeu Stadium menjadi pesta yang seolah tak ada habisnya. Real Madrid CF baru saja menjuarai La Liga dan Liga Champions, dan para pendukung Madrid merasa bahwa era dominasi baru yang tak terbantahkan sedang dimulai. Ditambah lagi, pengumuman kedatangan Kylian Mbappe untuk musim berikutnya semakin memperkuat kesan bahwa tim ini nyaris tak terkalahkan dan siap menciptakan era kejayaan di Eropa.

Sementara itu, di Barcelona situasinya sangat berbeda. FC Barcelona menutup musim tanpa gelar, sementara pemecatan Xavi Hernendez masih terasa hangat. Kondisi ekonomi klub juga tidak memberi banyak harapan: Barca masih terjebak masalah finansial, belum memenuhi aturan 1:1, dan tidak punya ruang untuk melakukan transfer besar. Semua tanda menunjukkan bahwa proyek Barca membutuhkan waktu dan kesabaran untuk kembali bersaing di level tertinggi.

Dua tahun kemudian, situasinya berubah drastis dan sulit dibayangkan sebelumnya. Barcelona berhasil meraih lima gelar, termasuk dua trofi La Liga, sementara Real Madrid hanya mampu memenangkan satu Piala Super Eropa. Perubahan peran ini menjelaskan lebih dari sekadar tren olahraga: ini berbicara tentang perencanaan, stabilitas, dan pengambilan keputusan.

 

Talenta La Masia dan Sedikit Transfer

Di Camp Nou—atau lebih tepatnya di kantor manajemen dan akademi La Masia—klub memilih membangun tim tanpa banyak sensasi. Menyadari keterbatasan finansialnya, Barca memutuskan untuk melihat ke dalam. Generasi yang sudah memiliki nama seperti Alejandro Balde, Gavi, dan Fermin Lopez kemudian disusul oleh Lamine Yamal, Pau Cubarsi, Bernal, dan Casadó. Para pemain yang dibina sendiri ini hampir tidak membutuhkan biaya transfer dan kini memiliki nilai pasar yang akan sulit dijangkau oleh klub dengan kondisi ekonomi terbatas.

Keberhasilan juga datang dari ruang direksi. Deco tepat dalam memilih pemain baru. Pertama, ia mendatangkan Dani Olmo, pemain dengan DNA Barca yang langsung cocok dengan gaya permainan tim. Setelah itu datang Joan García, seorang penjaga gawang penentu yang berkali-kali menyelamatkan Barca dalam banyak pertandingan dan menjadi kandidat kuat Trofeo Zamora. Total investasi untuk keduanya bahkan tidak mencapai 75 juta euro.

 

Kerja Flick

Langkah penting lainnya adalah menunjuk Hansi Flick. Pelatih asal Jerman itu dengan cepat memahami dinamika ruang ganti dan berhasil membangun tim kompetitif melalui pendekatan emosional dan taktis.

Ia memberi kepercayaan kepada pemain muda, memperkuat identitas kolektif, dan menjadikan ruang ganti sebagai kelompok yang sangat solid. Hasilnya adalah tim yang memiliki identitas jelas, kuat, dan prospek masa depan yang besar.

 

Madrid, Tim yang Mulai Hancur

Di Real Madrid justru terjadi hal sebaliknya. Proyek tim putih perlahan kehilangan sosok-sosok penting tanpa mampu menemukan pengganti yang sepadan. Kepergian Toni Kroos dan Luka Modric meninggalkan kekosongan secara permainan maupun kepemimpinan yang tidak berhasil diisi siapa pun. Klub menghabiskan lebih dari 200 juta euro untuk pemain seperti Endrick, Huijsen, Mastantuono, dan Carreras, tetapi tidak satu pun mampu memberikan dampak instan yang dibutuhkan tim yang terbiasa bersaing untuk semua gelar.

Ketidakstabilan juga mencapai kursi pelatih. Saat Barcelona menemukan kesinambungan bersama Flick, Madrid justru berganti tiga pelatih hanya dalam dua musim. Musim terakhir Carlo Ancelotti menunjukkan tanda-tanda kelelahan dan hilangnya kendali atas ruang ganti. Penunjukan Xabi Alonso hanya bertahan beberapa bulan, dan Arbeloa juga gagal memperbaiki situasi yang semakin memburuk.

Akhir dari semua ini semakin memperlihatkan keretakan internal. Pertengkaran antara Tchouameni dan Valverde menjadi simbol kehancuran sebuah tim yang dua tahun lalu tampak tak terkalahkan. Tim terbaik di Eropa kini berubah menjadi proyek penuh keraguan dan terpaksa menghadapi proses pembangunan ulang yang dalam serta mahal. [DR]

 



Reporter : Redaksi
Redaktur : Abdul Rahman Wahid