Korban Keracunan MBG di Kulon Progo Tembus 105 Orang, Ibu Hamil dan Menyusui Ikut Terdampak

Rabu, 22 Juli 2026 19:38 WIB
Kondisi tumpukan ompreng MBG di SMPN 3 Wates yang teronggok tidak dikonsumsi para siswa usai adanya keluhan diare dan mual pada Selasa, 21 Juli 2206. (IDNVoice/Harian Jogja/Khairul Ma`arif)
Kondisi tumpukan ompreng MBG di SMPN 3 Wates yang teronggok tidak dikonsumsi para siswa usai adanya keluhan diare dan mual pada Selasa, 21 Juli 2206. (IDNVoice/Harian Jogja/Khairul Ma`arif)

IDNVoice.com - Jumlah korban keracunan makanan yang diduga terkait Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Kulon Progo terus bertambah. Hingga Rabu (22 Juli 2026), Dinas Kesehatan (Dinkes) Kulon Progo mencatat sebanyak 105 orang mengalami keracunan setelah mengonsumsi makanan yang disediakan oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Karangwuni.

Korban tidak hanya berasal dari kalangan pelajar, tetapi juga menyasar kelompok rentan yang menjadi sasaran program MBG, yakni ibu hamil dan ibu menyusui.

Berdasarkan hasil surveilans Dinkes terhadap 786 penerima manfaat MBG, korban terdiri atas 98 siswa, empat tenaga pendidik dan kependidikan, satu ibu hamil, serta dua ibu menyusui.

Kepala Dinkes Kulon Progo, Susilaningsih, mengatakan angka tersebut menunjukkan attack rate atau tingkat serangan sekitar 13,5 persen. Ia menegaskan cakupan layanan SPPG tidak hanya meliputi sekolah, tetapi juga kelompok 3B, yaitu ibu hamil, ibu menyusui, balita, serta anak sekolah.

"SPPG ini melayani kelompok 3B, yaitu ibu hamil, ibu menyusui, balita, dan anak sekolah. Karena itu dampaknya tidak hanya muncul di sekolah, tetapi juga sampai ke masyarakat yang menerima layanan melalui posyandu," ujar Susilaningsih di Wates pada Rabu, 22 Juli 2206.

Menurut data Dinkes, SMP Negeri 3 Wates menjadi lokasi dengan jumlah korban terbanyak, yakni 98 siswa. Sementara itu, kasus lainnya ditemukan pada dua siswa dan dua tenaga pendidik di SD Negeri Darat, satu tenaga pendidik di SD Negeri Sogan, serta satu siswa MI Ma`arif.

Adapun pada kelompok masyarakat, korban berasal dari Posyandu Anggrek Karanganyar dan Posyandu Marsudisiwi Kebon Karangwuni, yang melibatkan dua ibu menyusui dan satu ibu hamil.

Meski jumlah korban cukup besar, Dinkes memastikan mayoritas pasien mengalami gejala ringan dan dapat pulih setelah mendapatkan penanganan medis.

Dapur SPPG Jadi Fokus Penyelidikan

Di tengah bertambahnya jumlah korban, Dinkes Kulon Progo terus melakukan Penyelidikan Epidemiologi (PE) guna mengungkap penyebab kejadian. Penelusuran difokuskan pada dapur SPPG Karangwuni yang memproduksi menu ayam saus barbeque, tahu goreng bawang, dan cah pakcoy.

Investigasi awal menemukan sejumlah dugaan pelanggaran prosedur keamanan pangan. Dari rekaman CCTV, petugas mendapati penjamah makanan tidak menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) sesuai standar saat proses pengolahan berlangsung.

Selain itu, ditemukan pula potensi masalah pada pengelolaan bahan baku. Sebanyak 249 kilogram ayam diterima pada Minggu (19 Juli 2026) pukul 18.45–20.00 WIB, namun baru dimasak sekitar pukul 02.00 WIB selama 45 menit dalam empat kloter. Makanan kemudian didistribusikan dan dikonsumsi penerima manfaat sekitar pukul 08.00–10.00 WIB.

Menurut Dinkes, rentang waktu yang cukup panjang sejak bahan diterima hingga makanan dikonsumsi menjadi salah satu titik kritis yang berpotensi memicu kontaminasi, terlebih tidak ditemukan pelabelan waktu penyimpanan maupun informasi kedaluwarsa makanan.

Penyelidikan juga terkendala minimnya bank sampel makanan. Padahal, setiap penyedia layanan diwajibkan menyimpan sedikitnya satu porsi utuh makanan di dalam freezer sebagai sampel apabila terjadi dugaan keracunan atau kejadian luar biasa.

"Sampel yang tersedia sangat sedikit. Meski demikian, sampel tetap kami kirim ke laboratorium untuk dilakukan pemeriksaan dan saat ini masih menunggu hasil resmi," kata Susilaningsih.

Saat ini, Dinkes Kulon Progo masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium untuk memastikan sumber kontaminasi penyebab keracunan, sembari melanjutkan penyelidikan terhadap seluruh proses pengolahan dan distribusi makanan dalam Program Makan Bergizi Gratis. [DR]



Reporter : Redaksi
Redaktur : Abdul Rahman Wahid