IDNVoice.com - Pengasuh Pondok Pesantren Mahasiswa (PPM) Aswaja Nusantara, Gus Mustafid, menegaskan bahwa kritik dan masukan yang disampaikan warga Nahdliyin harus dipandang sebagai bentuk tanggung jawab moral demi kemajuan organisasi, bukan sebagai upaya memecah belah Nahdlatul Ulama (NU).
"Saya berharap kita dicatat oleh Allah sebagai bagian dari Nahdliyin yang ikut memberikan kontribusi konstruktif bagi perbaikan dan kemajuan PBNU di masa mendatang," ujar Gus Mustafid pada acara Halaqah Kiai Muda NU Solo Raya di Pondok Pesantren Al-Mustofa, Sawit, Boyolali pada Selasa, 2 Juni 2026.
Dalam paparannya, ia menjelaskan bahwa berdasarkan Qanun Asasi yang dirumuskan oleh Hadratussyekh K.H. Hasyim Asy`ari, terdapat tiga fondasi utama yang menjadi dasar perjuangan NU.
Fondasi pertama adalah otoritas ilmu dan keulamaan. Menurutnya, Kiai Hasyim Asy`ari menempatkan ilmu dan ulama sebagai landasan utama kehidupan organisasi.
Kedua adalah prinsip al-ittihad atau persatuan. Ia menegaskan bahwa berbagai perbedaan pandangan yang muncul di kalangan warga NU tidak boleh berujung pada perpecahan.
"Ketegangan dan perbedaan pendapat boleh saja terjadi, tetapi jangan sampai memutus tali persatuan yang menjadi warisan para pendiri NU," katanya.
Adapun fondasi ketiga adalah menjadikan NU sebagai alat perjuangan untuk menegakkan nilai-nilai agama, kemaslahatan sosial, dan kepentingan umat.
Menurut Gus Mustafid, organisasi tidak boleh direduksi menjadi sarana untuk kepentingan pribadi maupun kelompok tertentu.
"NU adalah alat perjuangan. Organisasi ini dibangun untuk mengabdi kepada agama, bangsa, dan umat, bukan untuk menjadi tangga bagi kepentingan personal atau kelompok," tegasnya.
Halaqah Kiai Muda NU se-Solo Raya juga menghasilkan kesepahaman untuk memperkuat tradisi kritik yang konstruktif, menjaga persatuan Nahdliyin, serta mengembalikan fungsi kepemimpinan ulama sebagai penjaga moral organisasi menjelang Konferensi Besar NU mendatang. [DR]