Arsitek Kesuksesan PSG: Luis Enrique Persembahkan Gelar Liga Champions Kedua Beruntun

Minggu, 31 Mei 2026 03:16 WIB
Luis Enrique berpose dengan Si Kuping Besar setelah membawa Paris Saint-Germain (PSG) meraih kemenangan atas Arsenal pada final Liga Champions 2026 di Puskas Arena, Budapest. (Getty Images)
Luis Enrique berpose dengan Si Kuping Besar setelah membawa Paris Saint-Germain (PSG) meraih kemenangan atas Arsenal pada final Liga Champions 2026 di Puskas Arena, Budapest. (Getty Images)

IDNVoice.com - Luis Enrique telah menorehkan babak baru dalam sejarah PSG. Ketika banyak pihak mengira era kejayaan klub akan meredup setelah kepergian Kylian Mbappe, proyek yang dibangunnya justru berkembang semakin matang dan bersinar dengan identitas sendiri.

Sebelum musim ini, hanya Real Madrid yang mampu mempertahankan gelar di era Liga Champions modern. Meski PSG memulai laga final dengan kurang meyakinkan, mereka mampu bangkit, menunjukkan mental juara, dan menundukkan Arsenal, tim yang selama ini terlihat nyaris tak terkalahkan.

Sementara itu, keberuntungan dalam adu penalti kembali menjauhkan Arsenal dari trofi Liga Champions pertama mereka.

Dengan kondisi Achraf Hakimi dan Dembele yang fit, satu-satunya pertanyaan dalam susunan pemain PSG berada di lini tengah. Luis Enrique memilih pengalaman Fabian Ruiz dibandingkan Warren Zaire-Emery. Selain penjaga gawang Matvey Safonov, PSG menurunkan sebelas pemain yang sama seperti saat menghancurkan Inter di final musim sebelumnya.

Di kubu Arsenal, pelatih Mikel Arteta menghadapi lebih banyak dilema. Ia tidak mengambil risiko memainkan Jurrien Timber, sementara Cristhian Mosquera mengisi posisi bek kanan akibat cedera Ben White. Di sisi kiri, Piero Hincapie dipilih dibanding Riccardo Calafiori. Arteta juga tetap mempercayai performa impresif Myles Lewis-Skelly, sementara Havertz yang berpengalaman tampil di final Liga Champions mendapat tempat utama di depan Viktor Gyökeres.

Sejak awal laga, kedua tim langsung menunjukkan pendekatan masing-masing. Arsenal memilih bertahan dengan blok menengah yang relatif pasif untuk membatasi jalannya pertandingan, sedangkan PSG berusaha mengendalikan tempo melalui pergerakan dinamis para gelandang dan peran Dembele yang kerap turun menjemput bola.

Namun, saat pertandingan baru berjalan enam menit, Havertz kembali menunjukkan kemampuannya tampil pada momen-momen besar. Bola sapuan Marquinhos yang memantul mengenai Leandro Trossard justru membuka ruang bagi Havertz. Penyerang asal Jerman itu kemudian melepaskan tembakan keras yang tak mampu dihentikan Safonov meski sudut tembaknya sempit.

Gol tersebut menjadi awal yang sempurna bagi Arsenal sekaligus peringatan bagi PSG bahwa final kali ini tidak akan berjalan semudah saat mereka mengalahkan Inter setahun sebelumnya.

Luis Enrique pun mulai melakukan penyesuaian. Ia menggeser Fabian ke sektor kiri, mendorong kedua bek sayap lebih tinggi, serta menempatkan Desire Doue dan Khvicha Kvaratskhelia lebih ke dalam untuk mengeksploitasi ruang di belakang Declan Rice dan Lewis-Skelly.

Meski Arsenal tampak mengendalikan situasi pada sebagian besar babak pertama, PSG perlahan mulai menemukan ritmenya. Namun kreativitas di sepertiga akhir lapangan masih kurang, sementara lini pertahanan Arsenal tampil solid, terutama melalui Gabriel yang sangat dominan dalam menghalau berbagai umpan silang.

PSG akhirnya mendapatkan momentum pada babak kedua. Setelah permainan mereka semakin mengalir, wasit menunjuk titik penalti setelah Mosquera melanggar Kvaratskhelia dari belakang di dalam kotak terlarang.

Dembele maju sebagai eksekutor dan dengan tenang mengecoh David Raya untuk menyamakan skor menjadi 1-1.

Arteta merespons dengan memasukkan Timber dan Gyökeres, yang kemudian berduet dengan Havertz di lini depan. Namun keputusan tersebut justru membuka lebih banyak ruang bagi PSG untuk melakukan serangan balik. Kvaratskhelia bahkan sempat membentur tiang gawang setelah melakukan aksi individu yang memukau dari wilayah pertahanannya sendiri.

Ketika pertandingan memasuki fase akhir, kelelahan mulai terlihat pada kedua tim. Meski begitu, peluang terus bermunculan. PSG nyaris mencetak gol kemenangan melalui Vitinha dan Bradley Barcola, sementara Arsenal terus mengandalkan bola mati untuk menghindari adu penalti.

Namun takdir berkata lain. Setelah 120 menit pertandingan tidak menghasilkan pemenang, final harus ditentukan melalui adu penalti. Di momen krusial itulah PSG tampil lebih tenang dan efektif, sementara kegagalan Gabriel pada tendangan penentuan memastikan PSG kembali mengangkat trofi Liga Champions dan menegaskan status mereka sebagai raja baru sepak bola Eropa di bawah arahan Luis Enrique. [DR]



Reporter : Redaksi
Redaktur : Abdul Rahman Wahid