Hoaks Era AI Makin Canggih, Wamenkomdigi: Jalahoaks Jadi Benteng Literasi Digital Masyarakat

Kamis, 11 Juni 2026 11:30 WIB
Wamenkomdigi Nezar Patria didampingi Kepala BPSDM Komdigi Bonifasius Wahyu Pudjianto, Kepala Pusat Kerja Sama Internasional (PUSKI) Ichwan Makmur Nasution, Kepala Biro Humas Rhina Anita, serta Tenaga Ahli Wamen Donny Utoyo saat menerima audiensi nomine WSIS Prizes 2026 di Kantor Kementerian Komdigi, Jakarta Pusat pada Rabu, 10 Juni 2026. (Komdigi).
Wamenkomdigi Nezar Patria didampingi Kepala BPSDM Komdigi Bonifasius Wahyu Pudjianto, Kepala Pusat Kerja Sama Internasional (PUSKI) Ichwan Makmur Nasution, Kepala Biro Humas Rhina Anita, serta Tenaga Ahli Wamen Donny Utoyo saat menerima audiensi nomine WSIS Prizes 2026 di Kantor Kementerian Komdigi, Jakarta Pusat pada Rabu, 10 Juni 2026. (Komdigi).

IDNVoice.com – Perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) tidak hanya membawa peluang, tetapi juga tantangan baru dalam penyebaran informasi. Di tengah meningkatnya ancaman misinformasi dan disinformasi berbasis AI, platform Jakarta Lawan Hoaks (Jalahoaks) mendapat pengakuan internasional setelah masuk dalam daftar WSIS Champions 2026.

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Nezar Patria, menilai kehadiran platform verifikasi informasi seperti Jalahoaks menjadi semakin penting untuk menjaga ketahanan masyarakat terhadap penyebaran informasi palsu.

Salah satu inovasi yang mendapat perhatian adalah Jakarta Lawan Hoaks (Jalahoaks) yang dinilai semakin relevan di tengah meningkatnya ancaman misinformasi dan disinformasi. Wamen Nezar menegaskan perkembangan teknologi kecerdasan artifisial generatif membuat hoaks semakin sulit dibedakan dari informasi yang autentik.

“Hoaks makin lama makin canggih, terlebih dengan adanya generative AI. Bisa dibuat hoaks yang sangat mirip dengan sesuatu yang otentik,” ungkapnya.

Karena itu, ia menilai kehadiran platform verifikasi informasi seperti Jalahoaks menjadi instrumen penting untuk meningkatkan ketahanan masyarakat terhadap informasi palsu.

Selain Jalahoaks, inovasi lain yang memperoleh pengakuan dunia adalah Anugerah Bug Bounty dan Rumah Pendidikan. Kedua program tersebut dinilai memperkuat transformasi digital Indonesia melalui peningkatan keamanan siber dan perluasan akses pendidikan berbasis teknologi.

Wamen Nezar juga mengapresiasi program Anugerah Bug Bounty yang dinilai berkontribusi memperkuat budaya keamanan siber nasional.

Program tersebut dinilai mampu melibatkan para white hacker untuk mengidentifikasi kerentanan sistem sekaligus mendorong pemanfaatan kemampuan digital secara positif dan produktif.

“Kita bisa mendapat input soal kerentanan sistem yang kita bangun sekaligus mendidik generasi muda menggunakan kemampuannya untuk hal-hal yang positif,” katanya.

Sementara itu, platform Rumah Pendidikan menjadi bagian dari upaya pemerintah membangun ekosistem pendidikan digital yang terintegrasi dan inklusif. Melalui platform tersebut, akses terhadap layanan pendidikan diharapkan semakin merata bagi masyarakat di seluruh Indonesia.

Keberhasilan ketiga inovasi tersebut menembus WSIS Champions 2026 menjadi bukti bahwa transformasi digital Indonesia tidak hanya berfokus pada pengembangan teknologi, tetapi juga pada pemanfaatannya untuk menyelesaikan persoalan nyata di masyarakat.

Dalam ajang WSIS Prizes 2026, Indonesia berhasil menempatkan tiga inovasi terbaik di antara 90 champion dunia yang terpilih dari 1.596 inovasi digital asal 122 negara peserta. Pemerintah berharap capaian ini dapat berlanjut dengan lahirnya pemenang utama dari Indonesia pada pengumuman WSIS Forum 2026 mendatang. [DR]



Reporter : Redaksi
Redaktur : Abdul Rahman Wahid