Ribuan Rumah Rusak dan 6.458 Warga Terdampak, Sulteng Tetapkan Tanggap Darurat Pascagempa

Kamis, 18 Juni 2026 16:42 WIB
Sebuah rumah warga rusak akibat gempa yang terjadi di Sulawesi Tengah pada Selasa, 16 Juni 2026. (IDNVoice/BNPB)
Sebuah rumah warga rusak akibat gempa yang terjadi di Sulawesi Tengah pada Selasa, 16 Juni 2026. (IDNVoice/BNPB)

IDNVoice.com -Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah menetapkan Status Tanggap Darurat Bencana Gempa Bumi setelah gempa tektonik berkekuatan magnitudo 6,7 mengguncang wilayah tersebut dan menyebabkan ribuan warga terdampak.

Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Abdul Muhari mengatakan penetapan status tanggap darurat dilakukan melalui Keputusan Gubernur Nomor 300.2.1/199/BPBD-6-ST/2026 yang berlaku selama tujuh hari, mulai 17 hingga 23 Juni 2026.

Selain pemerintah provinsi, Pemerintah Kabupaten Sigi juga tengah menyiapkan penetapan status darurat selama 14 hari guna mempercepat proses penanganan dampak bencana di wilayahnya.

“Penetapan status tanggap darurat ini untuk mempercepat proses penanganan di lapangan," kata Abdul Muhari pada Kamis, 18 Juni 2026.

Berdasarkan data terbaru yang dihimpun BNPB hingga Rabu (17 Juni 2026) malam, jumlah warga terdampak gempa terus bertambah dan kini mencapai sedikitnya 2.012 kepala keluarga (KK) atau setara 6.458 jiwa.

Kabupaten Sigi menjadi daerah dengan dampak paling besar, yakni sebanyak 1.991 KK atau 6.418 jiwa terdampak. Sementara itu, di Kabupaten Parigi Moutong tercatat 21 KK atau 40 jiwa terdampak. Adapun data dampak di Kota Palu, Kabupaten Donggala, dan Kabupaten Poso masih terus diperbarui oleh petugas.

BNPB juga mencatat satu orang meninggal dunia di Kabupaten Sigi akibat bencana tersebut. Selain itu, sebanyak 79 warga mengalami luka-luka, terdiri atas 15 orang luka berat dan 64 orang luka ringan.

Kerusakan infrastruktur akibat gempa juga cukup luas. Tercatat sebanyak 1.456 rumah mengalami kerusakan ringan, 112 rumah rusak sedang, dan 47 rumah rusak berat. Selain itu, puluhan fasilitas umum turut terdampak, meliputi 35 tempat ibadah, 10 sekolah, serta 11 gedung perkantoran.

Di lapangan, sejumlah kendala masih dihadapi tim penanganan bencana. Akses komunikasi dan transportasi menuju Kecamatan Lore Utara, Kabupaten Poso, dilaporkan masih terputus. Sementara itu, Jembatan Palu III di Kota Palu terpaksa ditutup total karena mengalami keretakan struktur yang dinilai berisiko bagi keselamatan pengguna jalan.

Meski demikian, BNPB memastikan layanan kesehatan di wilayah terdampak tetap berjalan. Abdul Muhari menjelaskan bahwa sejumlah pasien yang sebelumnya dievakuasi ke tenda darurat di halaman rumah sakit kini secara bertahap telah dipindahkan kembali ke ruang perawatan.

BNPB juga mengingatkan masyarakat untuk tetap waspada mengingat aktivitas gempa susulan masih terus terjadi. Hingga Rabu (17 Juni 2026) siang, tercatat sedikitnya 13 kali gempa susulan dengan kekuatan berkisar antara magnitudo 4,0 hingga 4,2.

Masyarakat diimbau untuk menghindari bangunan yang mengalami keretakan atau kerusakan hingga dinyatakan aman oleh petugas berwenang guna mencegah risiko korban tambahan. [DR



Reporter : Redaksi
Redaktur : Abdul Rahman Wahid