IDNVoice.com - Alunan musik tor-tor terdengar di Gedung Pertemuan Sarumbuk Maroban Tua Jorong Paraman Ampalu, Nagari Rabi Jonggor, Kecamatan Gunung Tuleh, Kabupaten Pasaman Barat pada Kamis, 24 September 2026.
Lili Hana (63) berdiri sambil memainkan jemarinya mengikuti irama tarian tradisional khas Batak tersebut. Sesekali senyum semringah terlihat dari wajahnya. Gerakannya pun seolah mengajak orang-orang di sekitarnya ikut bergoyang.
Hari itu memang bukan hari biasa. Para perempuan mengenakan kebaya, sementara laki-laki tampil dengan baju batik. Papan bunga ucapan selamat berjejer di luar gedung.
Puluhan warga lanjut usia (lansia) berkumpul untuk mengikuti wisuda Sekolah Lansia Melati. Mereka mengenakan selempang bertuliskan wisuda lansia. Meski usia telah senja, keceriaan dan semangat justru begitu terpancar.
Bagi Lili, wisuda tersebut menjadi pengalaman yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Seiring bertambahnya usia, menurutnya, gerakan tubuh mungkin melambat. Namun, hal itu bukan alasan untuk kehilangan makna dan tujuan hidup.
Ia mengaku bangga sekaligus haru karena masih dapat mengikuti pendidikan hingga menyandang status sebagai wisudawati di usia 63 tahun. Melalui Sekolah Lansia Melati, Lili memahami bahwa pendidikan tidak mengenal batas usia.
“Awal mula mengikuti sekolah ini agak canggung juga. Namun lambat laun terbiasa dan sangat mengasikkan. Banyak ilmu yang diperoleh. Seperti anak SD yang baru sekolah,” ucapnya.
Lili mengikuti pendidikan informal tersebut dalam 12 kali pertemuan selama kurang lebih tiga bulan. Materi yang diberikan beragam, mulai dari kesehatan, fisik, gizi hingga kesehatan mental.
Menurut Lili, pendidikan tersebut juga membantunya menghadapi perubahan emosional yang sering dialami orang tua ketika berinteraksi dengan anak maupun cucu.
“Kita orang tua ini sangat sensitif. Mudah merasa iba dan tersinggung oleh anak cucu. Melalui pendidikan dengan pendekatan kekeluargaan ini, saya mulai optimis menghadapi sisa hidup ini,” ujarnya optimis.
Ia pun bertekad menjadi lansia yang berdaya guna, sehat, dan mandiri sesuai motto Sekolah Lansia Melati, yakni “Lansia Berdaya, Lansia SMART” atau sehat, mandiri, aktif, produktif, dan bermartabat.
Prosesi wisuda berlangsung sederhana namun khidmat, layaknya wisuda di perguruan tinggi. Satu per satu wisudawan dan wisudawati dipanggil ke depan oleh moderator. Langkah kaki para lansia memang tampak melambat, tetapi sorot mata dan raut wajah mereka memperlihatkan kegembiraan seperti anak muda yang baru menyelesaikan pendidikan.
Para wisudawan kemudian dikalungi gordon atau kalung medali wisuda oleh perwakilan BKKBN Sumatera Barat. Sertifikat tanda tamat belajar diserahkan oleh Staf Ahli Tim Penggerak PKK Pasaman Barat.
Wajah bahagia terlihat setelah mereka kembali ke tempat duduk sambil memperlihatkan sertifikat yang baru diterima. Salah seorang wisudawan, Sarkawi (84), bahkan berharap pendidikan tersebut tidak berhenti sampai di sini. Pria yang dahulu hanya mengenyam pendidikan Sekolah Rakyat (SR) itu mengaku ingin kembali belajar apabila ada jenjang lanjutan.
“Ini yang kami tunggu-tunggu. Sangat senang. Kalau ada lanjutan pendidikan lagi kami mau kembali ikut,” kata Sarkawi.
Sekolah Lansia merupakan program pendidikan nonformal sepanjang hayat yang dirancang BKKBN bersama Yayasan Indonesia Ramah Lansia untuk meningkatkan kualitas hidup lansia berusia 60 tahun ke atas dan pralansia. Program tersebut diarahkan agar lansia menjadi SMART, yakni Sehat, Mandiri, Aktif, Produktif, dan Bermartabat.
Program ini memberikan pengetahuan, keterampilan, serta aktivitas sosial dan spiritual dengan metode yang menyenangkan untuk membantu mencegah kesepian sekaligus meningkatkan kesehatan lansia. Tim Kerja Pembangunan Keluarga BKKBN Provinsi Sumbar Vionalisa menegaskan pendidikan tidak dibatasi oleh usia.
“Menambah pengetahuan atau pendidikan tidak dibatasi umur tetapi sepanjang hidup. Pendidikan ini tentu akan memberikan manfaat bagi para lansia,” kata Vionalisa.
Materi pembelajaran meliputi kesehatan fisik dan mental, nutrisi, penyakit degeneratif, spiritual, keterampilan sosial, hobi hingga literasi teknologi. Metode pembelajaran dibuat tidak kaku dengan melibatkan senam, permainan edukatif, dan diskusi kelompok.
Kegiatan Sekolah Lansia Melati dilaksanakan secara indoor di Aula Kantor Wali Nagari Rabi Jonggor dan diselingi kegiatan outdoor sesuai kebutuhan pembelajaran. Para pengajarnya berasal dari dokter dan pemegang program di jajaran Puskesmas Paraman Ampalu, Kepala KUA Kecamatan Gunung Tuleh beserta jajaran, petugas keluarga berencana, serta Petugas Lapangan Keluarga Berencana.
Materi juga mencakup tujuh dimensi lansia tangguh, yakni spiritual, fisik, intelektual, emosional, sosial kemasyarakatan, vokasional atau profesional/hobi, dan lingkungan.
“Konsep ini digunakan untuk menciptakan lansia yang sejahtera, mandiri, dan bermartabat dengan menguatkan kualitas hidup mereka di berbagai aspek kehidupan,” sebutnya.
Selain itu, program tersebut menerapkan konsep Lansia Berdaya (SIDAYA) sebagai strategi meningkatkan potensi dan peran lansia dalam kehidupan publik maupun pribadi.
Strategi tersebut mendukung lansia agar tetap sehat, mandiri, produktif, dan bermartabat melalui tiga pilar penuaan aktif atau active ageing, yakni lansia yang sehat, merasa aman, dan mampu berpartisipasi sesuai minat serta potensinya.
Vionalisa berharap Sekolah Lansia terus dilanjutkan sebagai bagian dari pemberdayaan lansia. Ia menyebut sekitar 11,97 persen dari jumlah penduduk Sumatera Barat yang sekitar 5,9 juta jiwa tergolong lansia.
Kepala Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPKBP3A) Pasaman Barat Armen mengatakan pihaknya telah membentuk Sekolah Lansia Melati sejak 15 Juni 2026.
“Kita menginginkan para lansia menjadi SMART (Sehat, Mandiri, Aktif, Produktif dan Bermartabat,” kata dia.
Dari 383 lansia yang ada di Nagari Rabi Jonggor, sebanyak 30 orang mengikuti Sekolah Lansia Melati. Sebanyak 30 lansia tersebut kemudian diwisuda, terdiri atas delapan laki-laki dan 22 perempuan.
“Sebanyak 30 orang lansia telah diwisuda, terdiri dari delapan orang laki-laki dan 22 orang lansia perempuan,” ujarnya.
Armen berharap keberadaan sekolah tersebut dapat melahirkan lansia yang tangguh, berdaya dan sehat, sekaligus merasa aman serta mampu berpartisipasi dalam berbagai kegiatan sesuai minat dan potensinya. Ia juga berharap program tersebut terus berlanjut. Sebab, berdasarkan data terakhir, sekitar 40 ribu warga Pasaman Barat telah tergolong lansia.
Staf Ahli Tim Penggerak PKK Pasaman Barat Gusmalini turut menyambut baik keberadaan Sekolah Lansia Melati.
“Kedepannya kita akan mengintegrasikan sekolah lansia ini dengan program PKK yang ada sehingga bisa meningkatkan pembinaan kepada keluarga,” katanya.
Bagi Lili Hana dan puluhan lansia lainnya, wisuda tersebut bukan sekadar seremoni. Selempang, medali, dan sertifikat yang mereka bawa pulang menjadi simbol bahwa kesempatan untuk belajar, berkarya, dan tetap berdaya tidak berhenti hanya karena usia bertambah. [DR]