Dorong Pemerataan Pariwisata di Bali, BI Petakan Klaster Wisata Baru

Rabu, 01 Juli 2026 15:04 WIB
Pura Ulun Danu Beratan, sebuah pura Hindu yang ikonik dan bersejarah yang terletak di tepi Danau Beratan di kawasan Bedugul, Bali. (IDNVoice/Kemenpar)
Pura Ulun Danu Beratan, sebuah pura Hindu yang ikonik dan bersejarah yang terletak di tepi Danau Beratan di kawasan Bedugul, Bali. (IDNVoice/Kemenpar)

IDNVoice.com - Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Bali memetakan sejumlah klaster wisata yang dinilai memiliki potensi besar untuk dikembangkan di Bali bagian utara, timur, dan barat. Langkah ini dilakukan untuk mendorong pemerataan pertumbuhan ekonomi sekaligus mengurangi kepadatan aktivitas pariwisata yang selama ini terpusat di Bali Selatan.

Deputi Direktur Kantor Perwakilan BI Provinsi Bali, Yusuf Wicaksono, mengatakan kawasan Bali Selatan saat ini menghadapi persoalan kepadatan wisatawan yang telah melampaui daya tampung.

"Terjadi over capacity untuk wilayah Bali bagian selatan," kata Yusuf di Denpasar, Bali pada Rabu, 1 Juli 2026.

Sebagai solusi, BI mendorong diversifikasi destinasi dan produk wisata sesuai potensi masing-masing wilayah. Di Kabupaten Jembrana atau Bali Barat, misalnya, pengembangan diarahkan pada pariwisata maritim yang berbasis pelestarian ekosistem laut.

Sementara itu, Bali Utara atau Kabupaten Buleleng dinilai memiliki potensi untuk mengembangkan wisata kebugaran (wellness tourism) dan wisata agro spiritual. Adapun Kabupaten Klungkung dan Bangli didorong mengembangkan wisata berbasis warisan budaya dan kuliner.

Menurut Yusuf, diversifikasi pasar pariwisata menjadi kebutuhan mendesak karena sejumlah destinasi unggulan di Bali Selatan, seperti Uluwatu, Pandawa, dan Mertasari, kini dinilai telah melebihi kapasitas ideal sehingga berdampak pada lingkungan, infrastruktur, serta kenyamanan wisatawan.

Karena itu, BI mendorong penegakan aturan tata ruang, perizinan pembangunan, dan pengendalian daya dukung lingkungan secara lebih tegas melalui kolaborasi antara pemerintah daerah, desa adat, akademisi, pelaku usaha, dan masyarakat.

Di sisi lain, upaya pemerataan pariwisata masih menghadapi tantangan berupa keterbatasan infrastruktur dan konektivitas antardaerah. BI menilai percepatan pembangunan koridor pariwisata timur-barat-utara serta proyek transportasi publik MRT yang menghubungkan Denpasar-Klungkung-Bangli-Singaraja menjadi kebutuhan penting.

Selain itu, revitalisasi Pelabuhan Gilimanuk di Kabupaten Jembrana, Pelabuhan Padangbai di Kabupaten Karangasem, serta Pelabuhan Celukan Bawang di Kabupaten Buleleng juga dinilai perlu dipercepat untuk mendukung aksesibilitas kawasan wisata.

Selama ini, sektor pariwisata menjadi tulang punggung perekonomian Bali, namun juga rentan terhadap berbagai gangguan eksternal, seperti krisis kesehatan hingga gejolak geopolitik global.

Berdasarkan data Dinas Pariwisata Provinsi Bali, sektor pariwisata menyumbang sekitar 66 persen terhadap pertumbuhan ekonomi Bali pada 2024.

Tak hanya itu, Bali juga memberikan kontribusi besar terhadap devisa nasional dengan menyumbang Rp176 triliun atau sekitar 55 persen dari total realisasi devisa pariwisata nasional yang mencapai Rp319,9 triliun.

Kinerja sektor ini juga terus menunjukkan tren positif. Sepanjang 2025, jumlah kunjungan wisatawan mancanegara ke Bali mencapai 7,05 juta orang, meningkat dibandingkan 6,33 juta kunjungan pada 2024. [DR]



Reporter : Redaksi
Redaktur : Abdul Rahman Wahid